Showing posts with label short story. Show all posts
Showing posts with label short story. Show all posts

Wednesday, February 22, 2012

JUST FRIEND AND CAN'T BE MORE

"Kenapa gue suka sama orang yang udah punya pacar?sesek!gue sakit" kali ini Cherry yang marah,matanya merah bertanda sebentar lagi akan ada yang meluncur dari sana menggambarkan kekuatannya telah runtuh,cowok dihadapannya terdiam,bahkan tidak sadar kalau bola basket yang berada ditangannya sudah menggelinding jatuh

"Kalau gitu,lo pacaran sama gue aja" ucapan Virgo membuat sontak mata Cherry menatapnya penuh tanya,tapi yang namanya perempuan walaupun suasana hatinya sedang kacau,tetap saja tersipu ketika seseorang menyatakan cinta walaupun dia tidak suka
"Lo nembak gue?" Suara isakan Cherry mulai terdengar samar,dia lebih fokus ke ucapan Virgo sahabat terdekat orang yang disukainnya selama ini

"Gue bukan maksud nembak kok" Virgo memperjelas maksudnya sambil duduk disamping Cherry lalu menyodorkannya sekaleng coke
"That mean i just wanna help you!" Sambungnya lagi,Cherry hanya menengok lemah,matanya sayu,padahal selama ini Virgo mengenal kalau Cherry adalah gadis terceria yang pernah dia kenal

"Help?" Kata-kata membantu memang perlu digaris ulangi,maksudnya membantu?membantu apa?

"Ya gue tau kok Rio suka sama lo lebih daripada perasaan dia ke ceweknya" ucapan Virgo seperti petir menghujam hati Cherry disisi lain dia tersengat disisi lain dia hancur

"Gue gak percaya hal kayak gitu lagi,gue gak mau lagi dikasih harapan kosong" kali ini Cherry terlihat tersenyum

"oh yaudah,kalau lo butuh bantuan,gue siap bantuin lo" tepukan bahupun menjadi penutup pembicaraan mereka yang tiba-tiba hari itu,walaupun Cherry masih merasakan sesak menyerang hatinya tapi sedikitnya dia tau Rio menganggapnya teman istimewa,walaupun tidak akan pernah lebih

---
Cherry Ananda Oktavia,gadis berumur 15 tahun yang sekolah di sekolahan internasional yang terdiri dari TK-SMA sekarang dia baru masuk SMA,orang tuanya campuran Bandung-Jakarta dia anak tunggal,ayahnya seorang anggota dewan,ibunya seorang design interior,walaupun hidup berkecukupan Cherry tidak pernah merasa gengsi untuk naik kendaraan umum semacam bajaj,bahkan kalau supirnya tidak menjemput dia akan menaiki bajaj sampai rumah,Cherry punya sahabat dekat,namanya Clara Bleinsky,keturunan prancis,karena sekolah di sekolahan internasional jadi Cherry punya banyak teman asing,selain Clara Cherry punya teman dekat dari SMP namanya Rio,dulu mereka teman sebangku,Rio memang tampan dan terkenal,tapi yang membuat Cherry jatuh hati pada Rio adalah sifat sempurna Rio yang hanya dia tunjukan didepan Cherry

---
"Gue gak tau kalau lo sebegini cintanya sama dia" Virgo mendribble bolanya menunggu reaksi sahabatnya yang sedang menunggu operan bola darinya

"Maksud lo?" Virgo tau kalau Rio mengerti maksud ucapannya tapi Rio hanya berpura-pura tidak tau

"Lo serius punya pacar?" Ulang Virgo masih mendribble bolanya tanpa memperdulikan Rio yang sudah siap menangkap daritadi

"Iya" jawab Rio rendah dengan ekspresi datar

"Dingin banget sih lo,oh kalau gitu Cherry boleh buat gue ya?" Sedetik,dua detik mata Rio menatap tajam Virgo tanpa ekspresi,dan Virgo akhirnya melempar bolanya tapi bukan ke Rio melainkan ke ring

"Gausah pasang tampang begitu,gue cuma bercanda" Virgopun meninggalkan Rio sendirian dengan perasaannya yang berputar-putar

---
"Got that?he love you!" Clara lagi-lagi memekik sambil memeluk sahabatnya yang sedang bersandar santai di jendela kelas,kebetulan tempat duduknya tepat disamping jendela

"He have girlfriend" ucap Cherry masih dengan suara lemah seakan nyawanya tidak ada

"Tapi kalau dia gapunya?how if he just lie?" Tanya Clara sambil bertopang dagu

"Buat apa dia boong?" Kali ini Clara yang terlihat melemah,bukan karena apa yang diucapkan sahabatnya,tapi karena melihat sahabatnya sudah sangat terlihat hancur

"You still love him?" Tanya Clara pelan membuat Cherry sedikit mengernyit

"I do love him,but this love just an empty hope,he was just my hope" suara Cherry hampir saja hilang ketika Rio tiba-tiba muncul di belakangnya

"Morning Cher" suara Rio terdengar seperti biasa,hanya saja di telinga Cherry suara itu terdengar bagaikan petir yang meyengat

*flashback*

Hujan mengguyur murid-murid Internasional English School sudah berhambur berlari menuju mobil jemputan mereka masing-masing,hanya dua orang yang sedang tidak dijemput hari itu Cherry dan Rio,setelah Rio menolak Cherry dan bilang kalau dia punya pacar hubungan mereka merenggang,mereka bahkan tidak saling bertatap tapi bukan Cherry yang menghidar,malah Rio yang menjauh dan itu membuat Cherry menyesal telah mengatakan yang sebenarnya

"Io gabawa payung?" Suara Cherry terdengar tercekat,Rio sontak menoleh,tatapannya masih dingin,dan Rio langsung melengos dan menerobos hujan tidak perduli dia kebasahan

Segelintir perasaan malu,menyesal,sesak berkecambuk di dada Cherry,tapi dia tidak ingin terus begini,dia mau masih berteman dengan Rio

"Gak usah anggep omongan gue! Anggep aja gue gapernah bilang suka sama lo,please gue mau kita temenan kayak dulu,kalau emang omongan gue itu salah gue minta maaf" tangan Cherry yang memegang payung bergetar rasanya tubuhnya ikut bergetar,tangan kekar dan lembut itu menyentuh lembut tangan Cherry yang gemetar

"Maaf ya" deruan air hujan semakin deras,Cherry tidak sadar kalau air matanya bergulir membuat Rio semakin merasa bersalah

"Maaf ngebuat lo nangis" hujan menjadi saksi pertemanan mereka,yang bagi Cherry tidak akan pernah lebih dari seorang teman

*back to story*
"Bonjour io" tatapan penasaran langsung menghujam Cherry dari sahabatnya Clara yang siap-siap menyembur Cherry dengan pertanyaan ketika Rio pergi dari sana

"Gimana?gak kena flukan gara-gara kemaren?" Rio mengusap lembut kepala Cherry membuat segelintir perasaan hangat mengalir ditubuh Cherry,perasaan yang seharusnya dia buang jauh-jauh

"Gaklah,guekan suka main ujan-ujanan jadi udah kebal,lagian kemaren gak kebasahan kok" Cherry berusaha menunjukkan sikap 'biasanya' sikap yang tidak lebih dari seorang teman,walaupun rasanya sangat sakit untuk menyembunyikan ekspresi yang seharusnya dia keluarkan

"Oh bagusdeh,eh gue keruang olahraga duluan ya,lo nyusul deh mending!tanding basket lagi sama gue" ajakan Rio membuat Cherry tersenyum masam

"Gabisa ah gue lagi halangan" kata Cherry dengan suara sangat pelan,dilanjuti anggukan dari Rio

"Oh yaudah bye" lambaian tangan menutup obrolan pagi mereka,dan Clara sudah siap dengan ratusan pertanyaan yang sudah memutar dikepalanya

"Tell me what's happening?!!" Suara Clara hampir terdengar menjerit membuat Dion teman dekat mereka yang lain ikut mendekat

"Ngomongin apasih?" Suara berat Dion membuat Cherry menengok sinis kearahnya

"Apaanlu ikut-ikut aja,sono sono" Clara dengan segera menarik tangan Dion

"Dia mau cerita sesuatu" ucapan Clara disambut anggukan manis Dion yang sudah siap mendengar cerita Cherry ditambah lagi satu orang yang tiba-tiba muncul sambil melepas jas yang merupakan salah satu seragam bagi anak cowok internasional school

"Cherr boleh minta tolong?" Kata Virgo tiba-tiba

"Apaan lagi nih bocah,gabisa she was so busy!" Ucap Clara dengan suara setengah bulenya yang centil

"But Clara teacher want she give this jurnal's book" ucap Virgo sambil menyodorkan buku jurnal ke arah Cherry,Cherry langsung mengambil cepat buku itu

"Iya gapapa,kan gue ketua kelasnya" kata Cherry santai,sebenarnya Cherry senang karna dia terbebas dari desakan teman-temannya

"Ke ruang pengolahan data ya" "sip" Cherry setengah berlari dan Virgo disembur dengan omelan kecil dari Clara

"Heh udah diem aja,emang di luar sekolah Rio punya pacarnya,tapi kalau disini?haahhaha" Virgo mengibas-ngibas selembar foto,foto dimana Rio sedang tertidur lelap di pojok ruang pengolahan data

"Lo emang the best deh go!"
"Osis kita emang hebat!"
"Gue gitu"

---

"Lo ngapain io?" Tanya Cherry ketika melihat Rio diujung ruangan sedang tertidur

"Eh Cherry lo kok bisa disini?" Ucap Rio malu-malu karna ke gaps sedang tidur padahal tadi dia bilang kalau dia mau main basket

"Kenapa gak tidur di uks aja? Lebih nyaman kan? Gue disuruh guru naro buku jurnal,Mr. Wibowo mana ya?" Tanya Cherry yang bingung karna gak ngeliat wali kelasnya di setiap sudut ruang pengolahan data yang termasuk kecil

"Siapa yang nyuruh?" Tanya Rio sambil mengganti posisinya dari senderan jadi tegak

"Virgo" Rio langsung menggeleng sambil menggaruk kepalanya

"Sialan si cumi,lo mau aja sih di kibulin cumi?hahaha" Cherry menggigit bibir bawahnya sambil melirik sinis ke arah buku jurnal di tangannya

"Sialan banget!!!! Pantesan mencurigakan mukanya!" Cherry dan Rio menyatu dalam tawandan hati kecil Cherry mengucap terimakasih pada Virgo berulang kali karna atmosphere canggung diantara dia dan Rio sudah hilang

---

"Guyyys udah liat pengunguman hari ini?" Seru Dion sambil ngos-ngosan karna setengah berlari dari koridor

"Apaan? Pemenang lomba puisi? Palingan si Kurnia lagi?" Ucap Clara malas-malasan karna dia tidak pernah menang dalam lomba puisi sekolah melawan Kurnia anak kelas 11 F

"Bukan! Sejak kapan gue perduli begituan? It's really-really great announcement!" Clara melirik dengan lirikan tajam,Dion terkekeh sedangkan Cherry,Rio dan Virgo sedang bergelut dengan pemikiran masing-masing

"Kita mau study tour! Repeat S-T-U-D-Y T-O-U-R" seru Dion akhirnya,dan tatapan Cherry,juga Rio langsung menatapnya,Clara terbengong beberapa saat untuk mencerna jelas apa yang diucapkan Dion

"Serius? WOW! Kok bisa osis kita diem aja?" Kata Clara menyindir Virgo,yang disindir hanya terkekeh

"Ampun neng.Gue cuma mau bikin kejutan aja,tapi si kunyuk ini keburu heboh duluan" kata Virgo menunjuk Dion dengan bahunya,yang lain hanya terkekeh melihat ekspresi Dion

"Kemana?" Kata Cherry yang baru tertarik dengan topik pembicaraan teman-temannya

"Lembang,ke tempat ngeliat bintang!" Ucap Dion sambil duduk di ujung meja

"Boscha kalau gak salah! Disana itu ada kebun teh yang keren banget" ucap Clara mengingat-ingat nama tempat yang sudah dia tau dari dulu tapi belum pernah dia kunjungi

"Bukannya boscha dibuka cuma ada saat-saat penting? Kayak gerhana bulan atau semacemnya?" Potong Rio yang daritadi diam

"Mungkin mau ada parade bintang jatuh,hahaha" Dion berusaha melawak tapi yang ada teman-temannya malah tersenyum gaje

"Emang kapan sih study tournya?" Tanya Rio sambil mengetuk-ngetukan jarinya di meja

"Sabtu ini" jawab Dion

"Gak nginep?" Tanya Clara sambil memelintir rambut cokelatnya

"Sayangnya enggak" terlihat raut kecewa dari wajah Dion keika mengatakannya

"Kenapa?" Tanya Cherry yang juga kecewa

"Takutnya ada orang tua yang gak setuju,lagian study tour ini termasuk mendadak banget" ucap Virgo selaku ketua osis yang tau tentang study tour ini

"Gak gaul nih"

---

Talk shit when they say it sounds crazy,love is even more wild when you're angry
I don't understand why you wanna change it,
Just listen to me
I was running from the truth
I'm scared of losing you
You are worth too much to lose
If you're still confused
No other words to use
I'm just in love with you
I'm just in love with you

"Cherry....eh ganggu ya?" Suara Clara terkekeh tertahan,betapa senangnya melihat Rio dan Cherry dalam posisi romantis.Cherry tertidur sambil bersandar di bahu Rio dengan satu headset yang dibagi dua

"Ehm mau dibangunin?" Tanya Rio dengan tangan yang sudah siap mengelus pipi lembut Cherry

"Gak! Gak usah,pas udah sampe aja dibanguninnya,atau... Sebangunnya deh,gak penting kok hehe" ucap Clara sambil duduk kembali di tempatnya,kursi dibelakang kursi Rio dan Cherry dengan Dion yang duduk disampingnya

"Ketua osis kita mananih?" Tanya Clara sambil memainkan smartphone ditangannya,Dion yang tengah sibuk ngemil hanya menggeleng

*other side*

Virgo merasakan hatinya bergerumul,posisinya di bis panitia yang terpisah dengan teman-temannya,ketika bisnya seiringan dengan bis teman-temannya berada matanya tertuju di barisan kursi tengah-tengah,dimana Cherry tengah damainya tertidur dan ketika cahaya matahari yang menyilaukan berusaha mengusiknya Rio menutup tirai bis dengan hati-hati,Virgo juga tak tau apa yang harus membuatnya merasa sesak,sebelum kejadian di lapangan basket waktu itu nampaknya perasaannya masih normal,tapi sekarang? Ada segores perasaan terluka melihat Rio dan Cherry,salahkah itu?

-other side-
Stop playing with my heart
Finish what you start
When you make my love come down

Cherry terbangun dengan gugup ketika sadar setengah perjalanan ini dihabiskan dengan bersandar di bahu Rio,apalagi ketika melihat Rio merentangkan tangannya karna rasa pegal

"Yaampun io kok lo gak bangunin gue sih? Tuhkan pegel?" Seketika perasaan tak enak menjalar di hatin Cherry,Rio hanya tersenyum lembut sambil mengacak rambut cherry

"Apaan sih? Kitakan temen,gak usah gak enak gitu" bukan Rio kalau tak mengumbar senyum,seketika perasaan Cherry kembali porak,kata-kata 'teman' mengartikan tak akan ada yang berubah dari status itu,lagi-lagi Cherry harus menelan kepahitannya

"Oh hehe" tawa kaku dan canggung keluar dari mulut Cherry lalu dia segera mengambil ranselnya mengeluarkan kamera dslr dan iphonenya juga notes dan alat tulisnya dari ranselnya

"Gue duluan ya io,lo mau bareng temen-temen lo kan?" Ucap Cherry sambil menggantung dslrnya di leher,Rio menatap heran,heran karna perubahan dari gadis yang dianggapnya begitu istimewa

"Lho? Lo kenapa Cherr? Lo masih gak enak karna tadi? Udahlah sepele kok,it's okay,kenapa kita gak bareng?" Seakan tak mengerti kalau Cherry ingin menjauh Rio malah menggenggam lengan Cherry

"Bu...bukan io,gue..." Cherry salah tingkah,dia tidak tau apalagi yang harus diucapkan pada Rio saat ini

"I'm okay Cherr,I'm here always for you,so jangan ngerasa gak enaklah sama gue.Kita udah sahabatan dari SMP" senyum tipis mengembang di sudut bibir Cherry.Senyum menahan segelintir perasaan yang berlomba menyeruak dari hatinya

"Iya bawel" senyum tipis dari bibir Cherry adalah sesuatu yang Rio suka,senyum kecil yang amat manis.Tangan Rio meraih lengan Cherry dan mengajaknya turun dari bis

Virgo sudah menunggu kedatangan dua sahabatnya yang daritadi belum juga turun dari bis.Dengan name tag yang mengalung dilehernya tanda kalau dia panitia,juga dengan toak di tangan kirinya

"Yaampun yang berduaan lelet banget mas mbak,ayo mau bagi-bagi regu nih" ucap Virgo meledek Rio dan Cherry yang turun beriringan,dan sebagai peserta study tour yang terakhir keluar

"Ampun mas" ucap Rio sambil memukul kecil lengan Virgo

"Iya tapi jangan lelet banget dong,buruan masuk barisan" seperti yang Virgo perintahkan Rio dan Cherry bergegas masuk barisan,dan didepannya tengah baris dua sobatnya yang terkekeh sepanjang waktu

"Cie...kalian mesra banget sih?" Sindir Clara sambil menopangkan tangannya di bahu Dion,Dion terkekeh sambil melirik kearah kedua sejoli yang sedang sama-sama tersipu,getaran handphone memecah perhatian,dan Rio dengan segera mengangkat telpon ketika melihat sesaat nama si penelpon

"Kamu kenapa lagi?" Ucap Rio pada si penelpon.Cherry,Clara dan Dion hanya memperhatikan air muka Rio yang berubah ketika berbicara

"Aku baru sampe,nanti pulang study tour aku langsung ke rumah kamu.Jangan nangis lagi,kita omongin baik-baik nanti"

"Iya,have a nice day ya.Bye" senyuman Rio menutup pembicaraannya di telpon,lalu matanya langsung menatap Cherry datar

"Gue gak perlu nanya,kalau gak mau sakit hati" ujar cherry pada batinnya.Dari nada bicara Rio yang halus dan penggunaan kata 'aku-kamu' saja sudah menggambarkan seseorang disebrang sana is someone important to him.Cherry lebih baik mengubur rasa penasarannya dibanding harus terluka dengan kenyataan

"Hey kalian serius amat ngobrolnya! nih ambil kertasnya,ini nentuin regu tour.Kalian ngumpul ke regu masing-masing begitu tau dapet regu apa" suara cempreng milil Lestari sang sekertaris Osis memecah keheningan mereka berempat

"Iya,makasih ya Tar" ucap Dion sambil mengambil kertas dari kotak yang disodorkan Lestari,diikuti Cherry,Clara dan Rio

"You're very welcome guys"

"Oh God,I'm in blue sky,how about you?" Ucap Clara sambil melirik kertas milik Dion

"Twilight,how about you both Cherr,io?" Kata Dion pasrah.

"Gue sunset" kata Rio polos.Dion lalu melirik ke kertas milik Cherry

"Twilight!" Seru Dion bahkan sebelum Cherry sendiri melihat tulisan dikertasnya

"Kita mencar bye Clara,Rio don't miss me" kata Dion sambil merangkul Cherry berjalan kearah regu mereka berkumpul tanpa babibu.Padahal yang diharapkan Cherry adalah sekelompok dengan Rio

---

"So,at least we can know the diffrent between star and planet" Cherry ada dibagian paling belakang barisan dengan gontai berjalan mengikuti sekitar 15 orang anggota regunya.Dion hilang entah kemana dan tiba-tiba sebuah tangan mencoleknya

"Hayooo bengong nanti ketinggalan lho" ucap Virgo tiba-tiba.Cherry menyikut Virgo asal

"Sialan lo,kaget niiih! Eh kok lo disini?" Ucap Cherry sambil menoleh kebelakang.Virgo tersenyum kecil

"Gue emang panitia,tapi gak berarti gue gak ikutan study tour juga.Gue juga harus nyatet-nyatet hehehe" Cherry baru sadar kalau wajah Virgo nampak damai.Senyumnya lembut dan tawanya begitu manis dilihat.Apalagi ketika sebuah cekung di pipi bagian kirinya tampak ketika dia berekspresi dengan bibirnya yang merah muda.Bahkan dari segi fisik Virgo satu nilai diatas Rio.

"Jangan bengong ngeliatin gue deh,nanti suka gak nanggung ya" senyuman Cherry berubah jadi tawa,dan pukulan melayang sempurna di bahu Virgo

"Idih GE-ER" canda-canda kecil mewarnai keduanya,dan disudut kecil hati Virgo ia merasakan getaran itu lagi.Getaran yang semakin jelas terasa

Jam makan siang sudah lewat.Tinggal acara bebas dan acara bebas dipakai Cherry dan Virgo menyusuri kebun teh.Keberadaan Dion,Rio dan Clara tak terlacak.Dan Cherry sedang membiasakan diri untuk jauh dari Rio.Menyiapkan hatinya menerima kalau suatu saat nanti Rio tak bisa lagi memiliki hubungan 'sahabat' istimewa dengannya.Kenyataan kalau Rio punya seseorang disana sudah terbaca jelas.Tapi kenapa Rio tetap memperlakukan Cherry istimewa? Dan kenapa Cherry tak bisa mengelak dari perlakuan tersebut? Banyak pertanyaan didunia yang tak bisa terjawab.Termasuk alasan Virgo sudah merasakan dengan jelas kalau dia jatuh hati dengan Cherry.

"Gue pengen lupain Rio" ucap Cherry memecah keheningan.Virgo terdiam memandang Cherry.Masih jelas terlihat kalau Cherry amat menyukai Rio

"Gak perlu,lo cuma harus belajar biasain diri lo aja" kata-kata Virgo membuat Cherry menghentikan langkah kecilnya menyusuri jalan setapak diantara rimbunnya pohon-pohon teh yang basah karna embun

"Maksud lo? Biasain gimana?" Rio terdiam sejenak lalu tersenyum

"Biasain aja sama sikapnya.Anggap aja itu sikap wajar seorang sahabat.At least kalau udah biasa lo bakal ngerasa it's have no mean" Cherry berpikir dalam diam.Matanya menatap bola mata Virgo yang cokelat terlihat,seketika perasaan hangat mengalirinya

"Lo yakin gue bisa?" Tanya cherry sambil mengibas tangannya diudara kosong

"Of course,Cherry itu cewek terceria yang tegar dan pantang menyerah"

"Lo salah Go.Kalau gue pantang menyerah gak seharusnya gue nyerah untuk dapetin Rio?" Virgo tersenyum lembut sambil memegang bahu Cherry

"Gak semuanya harus dipertahanin Cherr,ada kalanya lo harus milih amputasi daripada harus ngebiarin racunnya menjalar" Cherry merasa ada benarnya ucapan Virgo,dia meremas tangan Virgo yang memegang bahunya

"Thanks banget Go,you're my best friend I ever had deh!!!" Cherry berbalik riang dan berlari kecil meninggalkan Virgo yang tersenyum senang,melihat wajah Cherry kembali bersinar dan ceria lagi.

I'm done with this, feeling like an idiot,loving you I'm over it

---

"Cherry? Are you okay? Kenapa kok bisa kayak gini?" Tanya Clara begitu melihat Cherry di gendongan Virgo

"Gue jatoh tadi di kebun teh" jawab Cherry malu.Dion tertawa sambil melihat kearah lutut Cherry yang memar

"Untuk gak lecet atau robek neng" kata Dion sambil mengelus kepala Cherry.Virgo melihat kilatan tak suka dari mata Rio yang terdiam disisi Clara

"Keseleo doang kok" kata Virgo sambil membenarkan posisi Cherry digendongannya yang melorot

"Lo gak keberatan Go?hahahaha" ledek Clara sambil menepuk bahu Virgo,mereka tertawa lalu seorang cewek bule berjalan kearah mereka

"Guys sorry,but what actually happen here? Kok Cherry digendong gitu?" Tanya cewek yang juga memakai name tag dilehernya

"Eh Ruile,yeah a little crush,she's okay kok,don't worry" kata Virgo sambil mengumbar senyumannya.Cherry mengeratkan tangannya yang memeluk leher Virgo.Entah kenapa dia betah berada dijarak sedekat itu dengan Virgo.Wangi Virgo yang berbau parfum cokelat maskulin tapi tidak terlalu menyengat itu menenangkan hidung Cherry.Perlahan gadis itu justru terlelap.Mungkin juga karna udara Lembang yang dingin membuat perlahan matanya sayup dan tertidur dalam gendongan Virgo

"Yaampun Cherry bisa ketiduran gitu?" Ucap Dion yang sadar Cherry sudah tak disana bersama mereka

"Dia capek mungkin,dari abis makan siang dia keliling kebun teh yang luas,wajarlah" ucap Virgo sambil membenarkan lagi letak Cherry di gendongannya,lalu bergegas berjalan ke arah bis

"Go,emang kita balik ke Jakarta jam berapa?" Tanya Clara sambil mengekor Virgo begitupun Rio dan Dion

"Seharusnya sih jam setengah 6 kita udah jalan" dijawab dengan anggukan mengerti dari Clara,Virgo tersenyum samar.Lalu mendudukan Cherry dikursi yang ditunjuk Rio kalau itu tempat mereka

"So,gue titip Cherry sama lo ya selama diperjalanan nanti" ucap Virgo setelah meletakkan Cherry dan menutupi tubuhnya dengan jacket miliknya

"Gue mau izin balik duluan Go,soalnya Sasha udah nunggu daritadi" Clara yang sedang memperhatikan Cherry langsung melirik tajam,Dion terdiam mengatupkan bibirnya

"Jadi,Sasha udah balik ke Indo?" Tanya Virgo yang memang kenal dengan 'Sasha' yang disebut Rio itu

"Iya,dia mau ketemu gue dari tadi pagi,tapi gue..." Rio menggaruk tengkuknya salah tingkah,lalu Virgo tersenyum kecil

"Iya gue ngerti gak perlu kaku gitu" Rio tersenyum ragu,lalu akhirnya mengambil ranselnya yang diletakkan di bagasi diatas tempat duduknya

"Gue duluan ya Go,Clar,Ion sampein get well soon gue buat Cherry" ucap Rio menatap Cherry sekilas lalu beranjak pergi meninggalkan bis

"Go,lo tau tentang Sasha?" Cecar Clara ketika Rio sudah menutup pintu bis

"Dia itu sahabat gue sama Rio dari kecil.Dia udah cinta mati sama Rio daridulu,dan gue rasa dia udah dapetin Rio sekarang" Virgo menatap Cherry nanar.Segelintir perasaan bersalah membantai hatinya.Dua perasaan menggores hatinya.Perasaan cinta diam-diamnya yang baru ia sadari,dan perasaan bersalah menusuk Rio dari belakang,dia jelas tau Rio punya rasa lebih untuk Cherry,hanya saja Rio tidak punya kesempatan lebih untuk memiliki Cherry dalam status lebih dari sekedar sahabat,jadi bolehkah Virgo berharap lebih dari Cherry?

---

"Virgo? Supirnya Cherry udah jemput tuh" Virgo mengangguk ketika Clara menyadarkannya dari lamunan yang mematungnya menatapi Cherry

"Eh? Ah iya iya" suara Virgo tersendat,dia terkejut membuat Clara dan Dion terkekeh geli

"Gendong dia ya,biar kita yang bawain ranselnya" Dion dan clara bergegas mengambil barang-barang Cherry dan berjalan meninggalkan mereka

Virgo menggendong Cherry dengan hati-hati,menjaga agar kepala Cherry tetap bersandar didadanya,kecupan lembut di dahi Cherry menjadi tanda ketulusan Virgo menyayangi Cherry

"Go..." Suara Cherry yang belum begitu jelas membuat Virgo menjauhkan bibirnya dari dahi Cherry,dada cowok itu bergemuruh begitu hebatnya

"Cherr? Maaf gue bikin lo kebangun ya" ujar Virgo salting.Cherry menggeleng sambil menunduk tangannya memeluk leher Virgo

"Teach me to face the problem,teach me to be a better person,a better Cherry,a strong Cherry,with you" Virgo menatap Cherry dengan bingung.Kalimat yang keluar dari gadis yang merenggut hatinya ini membuatnya bingung

"What do you mean?"

"The story was supposed to last you were never supposed to be just somebody in the past, somebody I used to see." Senyuman lembut Cherry makin membuat Virgo begitu bingung

"Ajarin gue buat move on,ajarin gue buat jadi Cherry yang kuat,dengan lo gue rasa yang tadinya gak mungkin jadi mungkin"

"Contohnya?"

"Cinta gue yang gue rasa mati cuma buat Rio,buktinya sama lo...gue bisa jatuh cinta lagi dan gak terjebak sama an empty hope" Virgo tersenyum begitu melihat senyuman di bibir tipis Cherry

"Yeah you know goodbyes make you think. They make you realize who you had, what you’ve lost, and what you’ve taken for granted,so I was realize who I have to keep and who I have to let.” Virgo tersenyum lalu memeluk Cherry yang masih digendongannya

-Epilog-

Jalanan tol cipularang sangat lancar,hujan tak membuat perjalanan rombongan bis study tour Jakarta International High School,dan juga tidak mengusik Cherry yang tengah bersandar lelap di bahu Virgo.Gadis itu terbangun ketika kakinya terasa semutan,tapi dia tak membuka lebar matanya,karna dia mendengar Virgo mengucapkan kata-kata kecil

"Cherr,lo sabar ya nerima keadaan.Gue tau perasaan lo udah dibanting sama macem-macem kenyataan.Gue sayang sama lo entah sejak kapan,tapi gue gak mau maksain perasaan gue,gue gak mau lo bingung kalo gue nyatain perasaan gue,makanya gue sayang sama lo diem-diem aja ya? Gue dukung lo kok,apapun itu"

Ucapan panjang Virgo menyentak Cherry,perasaan yang tak disadarinya sejak tadipun menjadi salah satu alasannya membuka pemikirannya

'Ketika kita dihadapkan pada dua pilihan pilihlah yang terbaik,bukan yang kita mau tapi yang kita butuh.Ketika kakimu tergigit ular,dan kau disuruh memilih racun menyebar atau mati? Atau diamputasi racun hilang begitupun kaki? Yang kita mau tentu saja tanpa amputasi dan racun tak menyebar,yang kita butuh adalah racun itu hilang,walaupun kakipun harus ikut hilang'

:) End
Comment dong,pertama kali bikin teenlit nih hehe

Friday, January 20, 2012

Ending of Love

Seakan waktu berputar sangat cepat,seperti baru kemarin aku dan dia dilahirkan bersama,dan sekarang? Kami disini bersiap-siap untuk masuk ke sekolah baru kami di SMA,ya kami SMA sekarang

-Jassie's POV-


Aku meletakkan sisirku ketika merasa rambutku sudah rapi tapi tiba-tiba tangannya mengacak lagi rambutku,argh sia-sia aku mengikat rambutku rapi karena ujung-ujungnya rambutku hanya akan tercepol asal


"Justin,stop do that to me!" Kataku ketika dia mengacak rambutku,dia hanya tertawa lalu duduk dikasurku sambil mengunyah roti yang disiapkan ibuku memang untuk kami berdua


"You look so beauty J" katanya sambil tertawa dan roti yang ia kunyah jadi terlihat,dasar jorok


"I'm beautiful in everytime and everyway" kataku dengan pdnya dan dia terkekeh karena ucapanku dan menelan sisa roti dimulutnya lalu melihat ke arah jam di atas meja kecilku


"Okay Jassie Katelson you're my beautiful best friend ever" katanya sambil menarikku ke arah pintu agar aku bergegas,lalu aku merangkulnya dan kami turun ke bawah,siap menjalani kehidupan SMA kami,yippiee


Aku Jassie Katelson,kalian boleh panggil aku Jassie Jass or Kate,but only Justin who can call me J,hehe.Aku dan dia lahir bersama dan kami memang di takdirkan bersahabat sejak kami lahir,kedekatan kami hampir dikira lebih dari seorang teman oleh teman-teman kami selama di SD ataupun SMP,aku dan dia bersama sejak lahir,kami tumbuh bersama,aku tau semua tentangnya,dan dia tau semua tentangku,kami berbagi semua yang kami miliki,dan kedekatan kami alami,dan menurutku tidak mungkin ada cinta diantara kami selain cinta sahabat


"what if we don't have any friends there" kataku khawatir ketika dia membelokkan mobil range roversnya di parkiran sekolah baru kami,dia menatapku sambil tersenyum


"Who's need friends if you've had a best friend in the world?" Katanya sambil tertawa renyah,aku memukul lengannya ringan dan kamipun turun dari mobilnya,aku menatap ke sekeliling,tidak terlalu buruk,mereka tidak terlihat menyeramkan

'we were always together, and it made me used to beside him'

Di hari pertama kami sudah memiliki teman yang cukup banyak,kami bisa bergaul dengan yang lainnya dengan mudah,tetapi tetap kami selalu bersama,sehingga merekapun berfikir apakah kami pasangan,tentu tidak,itu tidak akan pernah terjadi,dan kamipun tak akan mau,kami lebih senang disebut sepasang sahabat


---


Tak terasa waktu bergulir dengan cepat,seminggu sudah kami menjalani kehidupan SMA kami,dan aku dekat dengan seorang anak perempuan cantik,dia memiliki senyum menawan,Marrie.Wajahnya latin karena dia memang orang meksiko,badannya ramping,dan mungkin dia adalah tipe-tipe cowok sekarang,aku berkenalan dengannya karena tidak sengaja seragam olahraga kami tertukar,sejak itu kami dekat,begitupun Justin yang membawa dua orang lagi dalam persahabatan kami,Ryan dan Chaz,seorang yang dewasa,lucu,dan keren.Walaupun anggota kami bertambah tak ada yang bisa menyaingi dan merubah kedekatanku dan Justin yang aku rasa abadi


-Normal POV-


Mereka berlima menghabiskan sore mereka di perpustakaan sekolah karena tugas history yang lumayan banyak dari guru killer mereka,dengan gelak tawa di setiap pengerjaannya,seakan tak ada habisnya,tapi kali ini ada yang berbeda,Justin lebih banyak menggoda Marrie dibanding Jassie,itu tak masalah.Toh mereka sahabat juga,tapi ada yang menganjal,dan Jassie merasakan itu,hanya saja dia mengabaikannya


"Oh c'mon we have to go practice at 5 pm" seru Chaz sambil mempercepat menulisnya,Ryan mengangguk sambil melihat jam di dinding perpustakaan dan ikut mempercepat menulis,sedangkan Marrie Jassie dan Justin santai sja karena mereka tidak bergabung dalam club basket yang mengharuskan latihan pukul 5 sore


"Finish!" Seru Chaz sambil bergegas membereskan buku-bukunya diikuti Ryan yang sepertinya juga sudah selesai


"We have to go now,no problem right?" Tanya Ryan yang masih membereskan buku-bukunya,Justin dan Jassie mengangguk tanpa memandang sedangkan Marrie mengangguk sambil tersenyum manis


"okay,bye" teriak Ryan dan Chaz bersamaan sambil bergegas pergi karena memang mereka sudah terlambat


Sekitar 15 menit kemudian mereka ber3 baru selesai,dan tak terasa perut mereka berbunyi bersamaan


"I think we should get dinner early" kata Justin sambil merentangkan tangannya berusaha merelaksasikan otot yang di pergunakannya menulis selama 3 jam ini


"MCD?" Tanya Jassie sambil merapikan buku-bukunya,tanpa pikir panjang tentu Justin langsung setuju tetapi Marrie terlihat tidak setuju


"Oh sorry I can't... I have to at home before 6 pm" katanya dengan wajah yang terlihat bersalah,Justin dan Jassie saling menatap


"Oh no problem" kata Justin lagi lalu ikut membereskan barang-barangnya


"so we were alone" ucap Justin yang sedang membereskan pulpennya yang berserakan


"we're not going anywhere, we'll take Marrie to home! It was almost night" kata Jassie sambil menggeplak kepala Justin,Marrie melongo


"Eh you don't need to do that,I can.." Jassie menggeleng dan Marrie tau niat Jassie mengantarnya pasti karna khawatir

'Aku yang menggali kuburanku sendiri,jadi untuk apa aku menangisi kematian hatiku lagi?'

Tak ada suasana canggung di antara mereka ber3,mereka asyik dengan canda tawa mereka,tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah besar milik Marrie,ya walaupun tak sebesar rumah Jassie dan Justin tapi ini juga tergolong rumah mewah


"Thanks guys,I'm so have fun today" kata Marrie sambil membenarkan letak tasnya


"Anytime Marr" ucap Jassie yang di setujui Justin dengan sebuah anggukan,Marrie tersenyum lalu turun dari mobil Justin dan melambai sampai Justin melajukan mobilnya


"because of you I'm hungry" ucap Justin sambil fokus kearah jalanan,Jassie terkekeh


"We take Marrie,our bestfriend to home,why are you even upset?" Kata Jassie santai,Justin mencibir dengan bibirnya membuat Jassie menyentil dahinya


"You can have dinner at my house" kata Jassie lagi dan membuat Justin nyengir kuda,dan Jassie hanya tersenyum melihatnya

'Entah sejak kapan,aku mulai berdebar di dekatnya'

---


Makan malam dengan beefsteak membuat Jassie dan Justin kekenyangan dan dengan segera mengantuk,tetapi mereka belum beranjak untuk tidur,mereka sedang asyik di kamar Jassie yang cozy,Jassie sedang sibuk memainkan macbooknya dan tenggelam di dunia maya,sedangkan Justin sibuk memainkan senar gitar klasik di tangannya


"All I hear is raindrops falling on the rooftop,Oh baby, tell me why’d you have to go" Justin mengambil nafas lalu mulai lagi melanjutkan alunan lagunya


"‘Cause this pain I feel it won’t go away,and today I’m officially missin’ you"


"I thought that from this heartache, I could escape but I’ve fronted long enough to know there ain’t no way and today I’m officially missing you" Jassie mulai mengalihkan perhatiannya pada suara merdu Justin yang berat menenangkan


"Ooh...can’t nobody do it like you said every little thing you do, hey, baby said it stays on my mind and I-I’m officially..." Justin yang melihat sahabatnya terbengong menatapinya seketika menghentikan nyanyiannya sambil melempar bantal yang sedari tadi ada disampingnya ke arah si pemiliknya


"why are you staring? I'm too handsome huh?" Kata Justin menyadarkan Jassie dari bengongnya


"Wha..what?iuh only in your dream" ucap Jassie dan melanjutkan lagi memainkan macbooknya,Justin hanya tertawa dan melanjutkan lagi nyanyiannya


"All I do is lay around, 2 years full of tears,from looking at your face on the wall just a week ago you were my baby" ketika tak sengaja Justin melirik dia melihat Jassie bergerak kesamping kiri-dan kanan seperti kehilangan keseimbangan,gadis itu mengantuk,selain karna makan kekenyangan,lagu yang Justin nyanyikan juga membuatnya makin mengantuk


"Ooh...can’t nobody do it like you said every little thing you do, hey, baby said it stays on my mind and I-I’m officially well, I thought I could just get over you, baby but I see there’s something I just can’t do from the way you would hold me to the sweet things you told me"


I just can’t find a way to let go of you

Ooh...can’t nobody do it like you
Said every little thing you do, hey, baby
Said it stays on my mind
And I-I’m officially...

Justin dengan segera melempar gitarnya ke samping dan melompat ke tempat dimana gadis itu duduk,yang sekarang tubuhnya ambruk,dan dengan tepat Justin menangkapnya.Gadis itu tertidur di bahu Justin sekarang,Justin bersandar di pinggiran sofa yang memang ada di belakangnya dengan sangat perlahan agar sahabat tersayangnya itu tidak terbangun


-Justin's POV-

I just can’t find a way to let go of you

Jassie selalu menampakan wajah malaikatnya ketika tertidur,wajah cantiknya selalu mengisi hari-hariku,setiap hari tak ada hari tanpanya dan entah mengapa aku tak pernah bosan.Rumahku sedari dulu ada di sebelah rumahnya,sejak lahir kami bersama,kami terbiasa dengan itu sehingga kami tak pernah terpisah,kecuali ketika nanti maut memisahkan,ataupun... Pernikahan.Tidak,aku tak akan berpisah dengannya karna aku yang akan menikah dengannya,kalian tau? Aku sangat menyukainya,menyayanginya,mencintainya.Tapi dia hanya menganggap itu sebuah lelucon,dia tak pernah tau yang sebenarnya,tapi tak lama lagi aku akan menyatakan perasaanku

'Terlambat aku menyadarinya,aku sudah memukulnya pergi,dan ketika dia pergi aku berharap dia kembali,tapi semua terlambat'

"I love you J" kecupan lembut di dahinyapun menghantarkan aku ke alam bawah sadarku,akupun tertidur dengan dia yang tertidur dibahuku


---


Lagi-lagi kami harus pulang terlambat,guru killer itu menghukum kami berlima karna dia bilang kami saling contek,padahal kami hanya kerja bersama tidak 'kerja sama' menyebalkan! Aku menggemblok tasku malas,aku melihat Jassie sedang saling rangkul dengan Ryan,aku cemburu,tentu! Jassie itu cantik,dan dia orang yang menyenangkan,tak susah membuat orang menyukainya,aku takut dia diambil orang lain,aku harus menyatakannya sekarang


"Jassie" sapaku sambil merangkulnya,dia menatapku dengan alis terangkat sebelah membuatku ingin mencubitnya


"I want to talk with you" kataku seakan menyindir Ryan karena hanya Jassie yang ingin aku ajak bicara


"Okay just say it" katanya santai,dia tidak mengerti huh?dasar.


"Just we both..." Ryan yang merasa tersindir langsung menyibir


"I'm go" kata Ryan sambil berlalu,aku menarik sebelah tangan Jassie dan menatap dalam matanya


"don't have to like this when you're hungry, I'll buy you a burger" katanya membuang pandangan dari mataku,aku memegang dagunya dan memutarnya agar menatapku


"I'm not hungry,okay I'm hungry but this isn't about burger ok?" Kataku tegas,dia terlihat mengernyit memintaku melanjutkan omonganku yang tadi diputusnya


"I love you" kataku jelas,dan mengucapkan ini butuh kekuatan ekstra


"Hahahha It's funny bieber,funny! Okay enough,I'm so hungry now" katanya seakan tak menganggap jelas omonganku,aku tau dia tau ini bukan bercandaan,pipinya bersemu


"I don't even joking" kataku masih memegangi tangannya,dia menatapku,aku tau dia juga menyukaiku ku mohon...


"Would you be my girlfriend?" Tanyaku lantang,dia menatapku lirih


"Justin..." Ucapnya dengan nada lirih


"Ok,you don't have to answer it now" kataku memberinya waktu berfikir,aku tak akan memaksa,tapi juga tidak akan menyerah,she will be mine


-Normal POV-


Jassie sedang melipat baju olahraganya dan sebuah tangan memeluk pinggangnya membuatnya terlonjak


"Marrie?" Marrie hanya tersenyum melihat sahabatnya kaget karenanya,dia duduk disamping Jassie sambil memandanginya membereskan baju olahraganya


"What's happen?" Tanya Jassie setelah selesai,dia tau ada sesuatu yang ingin dibicarakan Marrie


"It's about...I need your help" katanya sambil melirik kekiri dan ke kanan,sedangkan lawan bicaranya mengernyit


"Help for?" Tanya Jassie penasaran,Marrie seakan malu mengatakannya tapi akhirnya dia mengatakannya juga


"Justin" seperti dipompa lebih cepat,debaran jantung Jassie seakan semakin kencang


"Yes?" Pinta Jassie agar Marrie melanjutkan kata-katanya


"Can help me closer to him? I know this is crazy, but you know? I fell in love with him" ucap Marrie gamblang,Jassie menggigit bibir bawahnya,seakan berfikir keras,dia menyayangi Marrie tentu saja,dia mau membantu Marrie,tapi... Justin? Bukankah cowok itu sedang menunggu jawabannya? Apakah Marrie bisa membuat Justin berubah fikiran? Karena Jassie tak mau kalau persahabatannya dan Justin terbuang sia-sia jika mereka pacaran dan putus nantinya,Marrie masih menunggu jawaban Jassie,sedangkan Jassie sedang berfikir keras,dia tidak mau merusahk persahabatannya dengan Justin,tapi... Kalau Justin punya pacar akankah dia sedekat dulu? Akankah Justin tetap berada di sisinya setiap waktu dan bebas memeluknya tanpa ragu?


"Okay" dengan yakin Jassie menyetujui permintaan Marrie,seakan tak sadar dia sudah menggali kuburannya sendiri


"Thaaaanks" kata Marrie sambil memeluk erat Jassie


"The first time I saw you both I think you're couple" kata Marrie setelah melepas pelukannya


"How can?" Tanya Jassie sambil menali tali sepatunya yang sedari tadi belum dia kenakan


"I see the way you look at each other" Jassie hanya tersenyum,disudut hatinya dia tau dia membuat sudut itu retak,dan semakin lama retak itu akan semakin besar dan ketika bom waktu menunjukan kekuasaannya bom itu ikut menghancurkan seluruh hatinya


-Jassie's POV-


Seminggu sudah sejak pernyataan cinta Justin dan ketika Marrie minta bantuanku,setiap hari pula aku berusaha mendekatkan mereka berdua,kami pulang bersama setiap hari,karena aku tak mau menghancurkan hati mereka,aku tetap ikut pulang bersama mereka,tetapi aku duduk di jok belakang,tempatku di tempati Marrie,tentu saja,walaupun Justin heran karna itu tapi dia tak mungkin menolak

'Sampailah dimana hatiku mulai pecah satu persatu bagian'

"do you love our friendship?" Tanyaku ketika aku hanya berdua dengan Justin di balkon kamarku,hal yang seminggu ini tak lagi kami lakukan


"Of course" katanya tenang,aku mencoba mengumpulkan kekuatanku,aku tau aku salah memilih jalan.Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku tau aku tak akan kuasa jika melihat Justin dengan gadis lain,walaupun itu Marrie,aku tau aku akan kehilangan sosoknya yang selalu muncul dalam hariku,tapi nasi sudah menjadi bubur,kalau aku menerima Justin aku akan sangat menyakiti Marrie,dan kenapa aku baru menyadari kalau aku mencintai Justin?


"So...let me go" kataku dengan berat hati,dia seperti melotot ke arahku karna perkataanku aneh


"What?" Katanya lagi,aku terdiam dan kurasakan buliran di mataku perlahan tumpah


"tell me why I should to do that?" Katanya lagi sambil mencoba membuatku menatap matanya,aku tak sanggup,aku terlalu lemah untuk hal baru semacam ini,ini pertama kalinya aku rasakan,cinta pertamaku

'Jaga ucapanmu atau kau akan kehilangan semuanya'

"there are girls who love you more than me, even I'm not sure I love you" kataku berusaha sok tegar,dia menatapku kecewa,kata-kataku mulai mengetuk hatinya dengan palu yang keluar dari mulutku


"how do you know the feelings of others while you don't know your own feelings!" Katanya tegas,aku terdiam kepingan kedua sudah jatuh dan pecah


"I know my feelings! I love you Justin... As my besfriend,and you also feel the same" kataku tanpa melihat matanya,mataku masih mengalirkan air mata,dia megenggam tanganku kencang


"I look at you as a girl! I love you as boy love girl! I know you also feel it!" Katanya sambil mengguncang bahuku,aku mengingat memori kebersamaan kami,akankah kami tetap begitu setelah ini?


"I can't,the only one who loves you in that way only Marrie, not me" dia terdiam cukup lama untuk mencerna kata-kataku,aku melihatnya marah,sedih bukan Justin yang ceria lagi


"Marrie? so you want me along with Marie? during the week I'm waiting for your answer and you actually want me to love Marie?" Katanya dengan nada yang serasa menyayat hatiku,AKU CINTA KAMU! Tapi aku telah memilih jalan yang salah! Aku terlalu naif! Biarkan aku yang terluka,tetapi aku tak menyangka ini sangat menyakitimu


"I've promised not to force you but also will not give up, well I'll try to love Marrie if this is like what you want" katanya lagi,aku sesegukan sekarang menangisinya,kebodohanku,kenaifanku,dan sikap sok tegarku!semuanya! Aku bodoh!


"once again I ask you, are you don't love me as a girl loves a boy?" Ucapnya lagi dan memintaku menatap matanya,aku menarik nafas dalam,mengeraskan sementara hatiku sebelum hancur total


"Yes" kataku pasti,dia menatapku sendu lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu


"stop crying then, try to be honest with yourself, and you don't have to worry I'll try to love Marrie as you want" katanya sambil memutar kenop pintu,dia benar untuk apa aku menangis kalau aku tidak mencintainya,tapi kenyataannya aku mencintainya!


---


Sebulan sudah sejak kejadian Justin menembakku,dan sekarang kami menjalani kehidupan kami seperti dulu,dan aku berhasil membuatnya dekat dengan Marrie,mereka sedang di tahap pendekatan ke arah jadian malah,aku senang melihat mereka bahagia? Aku munafik kalau aku bahagia,karna aku pasti juga terluka karenanya,tapi untuk apa aku menangis? Aku yang sudah menendangnya pergi


Seperti biasa kami pulang bertiga hanya saja hari ini Ryan dan Chaz ikut bersama kami karna kami akan makan-makan untuk merayakan masuknya musim panas,aku duduk di jok belakang di antara Chaz dan Ryan yang sampai sekarang tak tau dan takkan pernah tau tentang pergerumulan emosi tempo hari antara aku dan Justin,tak boleh bahkan Marriepun tak boleh


"you guys are closer lately huh?" Tanya Ryan yang memang bingung kenapa sekarang Justin jadi lebih sering bersama Marrie,bukan hanya mereka,bahkan satu sekolahpun bingung


"Seriously?" Kata Marrie tersipu,Justin tersenyum melihatnya sambil masih tetap mengemudi


"can you see? she blushed because you" kata Justin sambil mengacak rambut Marrie,mereka sangat romantis,aku baru sadar tatapannya tak pernah seperti itu padaku,iyakan?


Ryan dan Chaz heboh melihat Justin dan Marrie yang begitu mesra,aku tau aku harus menerima hasil dari perbuatanku,kenaifanku.Kami sampai di depan seven eleven yang dari luar terlihat sepi,kami menghambur ke dalam,hal yang selalu aku dan Justin lakukan tiap kesini adalah berlomba masuk,tapi sekarang aku hanya melakukannya dengan Chaz dan Ryan,Justin sedang berjalan dengan tenang dengan Marrie disisinya,mereka sangat cocok.Lagi-lagi aku kehilangan serpihan hatiku yang kurasa sudah tak ada lagi setengah,aku masuk ke dalam dan mencoba melupakannya walaupun itu tak mungkin.


---


Chaz pulang ketika ibunya sudah menjemputnya dan tentu saja sobat karibnya Ryan nebeng bersamanya,tinggal aku ,Justin dan Marrie. Sepertinya ini waktu yang tepat agar mereka jadi kekasih,baiklah aku mengalah aku berjalan menjauh dari mereka dan Justin mengejarku


"Jassie where are you going?" Katanya sambil menarik tanganku.


"What's happen?" Kataku gamblang,seakan tau kalau ada sesuatu yang ingin di katakannya


"actually I've been together with Marie" seakan ada petir yang menyambarku aku terbatuk lalu kurasakan lagi kepingan hatiku kembali jatuh,mungkin sekarang tinggal bagian-bagian kecil yang belum hancur


"Co...congratulation!" Kataku sebisa mungkin terlihat bahagia,dia tersenyum dan memelukku,sekilas,itu bukan lagi pelukan hangatnya yang dulu,aku harus terima Justin bukan lagi dia yang dulu,yang selalu siap untukku,bukan lagi.


---


Sudah masuk minggu pertama di musim panas,seakan semangatku kembali di bangunkan,walaupun tanpa dia yang ceria,kini aku mulai rindu sosoknya,dulu kamu yang menyanyikan aku lagu 'officialy missing you' sepertinya karma menyerangku,karna seharusnya aku yang menyanyikan itu sekarang,selama beberapa hari aku tak bersamanya,dia jauh sangat jauh tak terjangkau disana


Aku sedang duduk di atas kursi malasku di balcon sambil menyeruput lemon teaku,udaranya panas tapi seketika sejuk ketika aku meneguk ice lemon tea yang dibuatkan oleh maidku,tapi serasa kembali mendidih aku melihatnya! Aku melihat Marrie dan Justin yang sedang berenang bersama,Marrie terlihat cantik dengan bikin kuningnya dan Justin terlihat sexy dengan tubuhnya yang sedang shirtless,mereka sedang tertawa bersama,aku rindu masa-masa dimana aku yang membuatnya tertawa,dimana hanya aku yang di pandanginya dengan tatapan itu,bukannya pergi aku malah terus melihat mereka berdua yang serang saling mendekat dan.... Bibir Justin yang ku tau untuk pertama kalinya mencium gadis,gadis itu adalah Marrie! Haruskah begini? Haruskah didepanku?salah bukan salah mereka,aku yang menonton mereka


---


Aku duduk di teras belakang menghadap ke halaman,kurasakan angin musim panas yang membawa terik tapi lumayan menyejukkan menyentuh tubuhku,dibarengi sentuhan seorang yang hampir aku lupa bagaimana erasa sentuhan tangannya menepukku


"Jassie?" Justin,berdiri di hadapanku,tapi tanpa Marrie.Bukankah mereka bersama? Kemana dia?


"Yes?" Kataku santai,dia menatapku sesaat lalu akhirnya menggeleng


"I just wanna know your condition" aneh,untuk apa masih memperdulikanku,aku mengangguk dan tersenyum sekilas,lalu aku berbalik pergi,ke arah pintu gerbang halaman belakang,air mataku tumpah,dan tak kui sangka Justin mengejarku,aku justriu berlari ketika tau dia mengejarku,aku menyebrang Justin menyebrang


Bruuk


Aku dengar suara orang terbanting,tidak itu tidak mungkin Justin kan?aku berbalik dan....


Nafasku terhenti ketika melihat tubuh orang yang ku sayang tergeletak di jalan,aku berlari menghampiri Justin yang sudah berlumuran darah...


Darah Marrie yang mengucur deras,ini lagi-lagi ke salahanku,aku membuatnya tertabrak mobil,karena aku Justin mengejarku,dan karna itu Marrie tertabrak!Justin melemas sambil berteriak minta tolong,aku menyetop taksi yang kebetulan lewat dan aku meminta taksi itu secepatnya sampai ke rumah sakit.Orang tua Marrie sudah di telpon,aku dan Justin terduduk lemas di depan ruang UGD dengan tangis yang sudah pecah sejak tadi,aku lihat Ryan dan Chaz datang dan Chaz menepuk bahu Justin sekedar memberikan kekuatan,Ryan tau aku juga shock dengan gentle dia memelukku,aku tau ini yang kubutuhkan sekarang


---


Sudah dua hari sejak insiden mengerikan itu,secara resmi Marrie dinyatakan koma.Orang tuanya tak menyalahkan siapapun,karna ini memang kecelakaan,bukan disengaja. Setiap hari karna sedang liburan musim panas aku slalu datang ke rumah sakit,begitupun Chaz dan Ryan,tapi hanya satu orang yang slalu setia di sana... Justin,sejak awal dia ada disana,sejak awal Justin disana,sampai kami pulang dan datang kembali dia tetap akan disana


"Morning" sapaku suatu pagi ketika aku berniat mengantarkan bunga-bunga baru untuk Marrie,Justin masih tidur,dia tertidur di kursi disamping tempat tidur Marrie,tangannya megenggam tangan Marrie seakan takut kehilangan,aku hanya bisa tersenyum miris.


-Normal POV-


Jassie terduduk lemas di sofa di ruangan itu dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya,air matanya tumpah untuk ke sekian kalinya,tanpa sadar tangisnya membangunkan Justin,Justin mencari sumber suara dan langsung memeluk Jassie sahabat yang sudah akhir-akhir ini dia abaikan

'Nasi sudah menjadi bubur,satu-satunya jalan terbaik adalah melepasmu'

"why are you crying?" Tanyanya sambil melekatkan pelukannya,pelukan yang sudah tak pernah lagi dia berikan pada gadis yang pernah dicintainya,atau malah masih dicintainya?


"This is all because of me!" Isak Jassie keras,dia makin menangis,putaran memori memenuhi kepalanya,seakan diangkat ke tempat tinggi ketika memori dia bersmaa Justin kembali diingatkan dan dia dibanting sekaligus ketika memori tentang Justin yang semakin lama lupa akan dirinya dan ketika dia melihat Marrie yang tergeletak tak berdaya ,dia menangis lagi


"This is not your fault!" Bentak Justin dan membuat Jassei dIam seribu bahasa


-Jassey's POV-


3 bulan,aku masih sering datang melihat Marrie yang masih koma,dengan Justin yang selalu setia bersamanya,tapi sekarang aku bersamanya di taman,kami duduk tanpa saling bicara sampai ketika aku mendengar tangisannya pecah,kehancuran yang selama ini tak pernah ku lihat dari seorang Justin,baiklah aku ingat aku pernah melihat ini ketika aku beradu argumen dengannya tepat 4 setengah bulan yang lalu,waktu itu dia tidak menangis,tapi dia seperti ini terasa hancur


'Seandainya aku bisa putar balikan waktu,aku ingin kembali ke saat kau menyatakan cintamu,tapi semua sudah berakhir'


"I'm here to you,you may cry, take out all your pain!" Seruku dan dia memelukku lalu menangis di bahuku,aku mengelus lembut rambut emasnya yang kurindukan,lambat laun tangisnya hilang dia menatapku sambil mengucap terima kasih dengan susah payah


"T...tha..thanks" ucapnya lirih,mataku berair,ini menyakitkan daripada apapun


'Air mataku yang turun karna melihatmu dengannya tak sebanding dengan air mata yang keluar karna merasakan kepedihanmu'


"You love her?" Tanyaku spontan,dia menatapku dan mengangguk


"you still love me?" Kataku seperti tak sadarkan diri,dia menatapku bingung,aku tak memaksanya menjawab,dia mengerahkan sendiri bibirnya untuk menjawabku


"Yes" katanya lagi,aku tau ini gila,tapi aku tak bisa terus terjebak di sini,aku melibatkan dIa dan Marrie,karna perasaanku yang begitu naif banyak yang terluka,aku terdiam cukup lama,entah kerasukan setan apa Justin mendekatiku dan menciumku,kurasakan bibir lembutnya,ciuman pertamaku dicurinya...


"Justin" kataku lirih,dia tersadar dan segera memalingkan wajahnya,bukan,bukan tersipu tapi lebih kearah malu karna bisa melakukan hal gila ini,dengan sahabatnya


"It is just kiss" kataku lagi,aku beranjak meninggalkannya ketika aku yakin dia sudah tak apa


---

How do I end up in the same old place,
faced again with the same mistakes,
so stubborn thinkin I know what is right,
but life proves me wrong everytime

Kudengar Justin tidak enak badan,jadi dia dirumah,aku kerumahnya ketika dia sakit,itu sudah pasti,itu kebiasaan kami.


"Justin? Are you there?" Tanyaku sambil membuka sedikit pintu,tak ada jawaban.Ketika aku masuk dia sedang tidur,wajahnya yang tampan masih jelas walaupun tertutup kesedihan


"Marrie? Marrie? you've passed out?"


"Marrie,I miss you, I love you"


"Marrie don't leave me"


Perlahan lututku lemas,harapan yang dulu sangat aku inginkan terkabul,Justin sepenuhnya mencintai Marrie,bukan aku


"Uhuk uhuk" Justin terbatuk dan kulihat dia mengerjapkan matanya


"Justin,are you sick?" Kataku memasang wajahku yang sok ceria,dia menggeleng padahal sudah jelas dia sakit


"I want to solve the problems between us" katanya menarik tanganku yang hendak keluar,aku menurut,dia benar ini harus selesai


"we are best friends, and forever will be like that, but now I've got Marrie ... although she was sick she will realize one day, we should not get too close, you who want this..." Lagi-lagi aku dibanting hatiku yang bahkan sudah mati ini kembali di banting lagi?baiklah aku harap ini yang terakhir


"I LOVE YOU!I was too stupid and naive! I never want any distance between us! that's what made me pick that turned out to actually hurt me hurt you, I managed to find a cure and isn't it? Marrie is a pain medication, it's over, as I've said, we're bestfriend and forever will be bestfriend" serasa beban yang kupikul selama ini lepas begitu saja,kurasakan tangannya mendekapku


"Could I ask for something for the last time?" Tanyaku di dalam dekapannya,dia mengangguk,aku mengendurkan pelukan,dan menatapnya


"Kiss me"

'Bolehkah aku merasakan ini?sebagai penutup dari mimpi buruk ini'

Dia mendekatkan tubuhnya lagi,nafas hangatnya ku rasakan menyentuh wajahku,dan...


Dia mengecup dahiku lembut dan cukup lama,ini memang bukan yang aku minta,tapi yang aku butuhkan,ciuman tulusnya,dengan hatinya,dan mungkin dengan sisa cintanya untukku dan dengan ini ku akhiri cintaku untuknya,cinta pertamaku,pengorbananku,ku akhiri semua cintaku untukmu,sahabatku sejak kecil Justin Drew Bieber,dengan ini cintaku berakhir disini


-The End-